Senin, 13 Juni 2016

Meningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia dengan Menerapkan Teknik Debat Topik

Kata Pengantar

Rasa syukur kami panjatkan atas rahmat dan ridho Allah SWT, karena tanpa rahmat dan ridhoNya, kami tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan selesai tepat waktu. Dalam makalah ini kami membahas mengenai meningkatan keterampilan berbicara dengan menerapkan debat topik.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam materi mengenai keterampilan berbicara serta memenuhi tugas Mata Kuliah Berbicara. Dalam pembuatan makalah ini mungkin terdapat kesalahan yang belum kami ketahui. Maka dari itu kami mohon kritik dan saran dari dosen pengampu demi terwujudnya makalah yang baik dan benar.





Tegal, 10 Juni 2014

                                                                                                                             Penyusun





Daftar Isi

Halaman Judul
Kata Pengantar ……………………………………………………………………     1
Daftar Isi ………………………………………………………………………….     2
Bab I Pendahuluan
1.1     Latar Belakang ……………………………………………………………..      3
1.2     Rumusan Masalah ……………………………………………………….....      4
1.3     Tujuan ………………………………………………………………………     5
Bab II Pembahasan
2.1     Keterampilan Berbicara Dengan Menerapkan Teknik Debat Topik …...........    6
2.1.1        Pengertian Berbicara ………………………………………………     6
2.1.2        Tujuan Berbicara …………………………………………………..     7
2.1.3        Pemahaman Mengenai Kaidah-kaidah Debat Topik ………………     7
2.1.4        Faktor-faktor Kebahasaan Penunjang Keefektifan Berbicara ……...    8
2.1.5        Hasil Dari Menerapkan Teknik Debat Topik ……………………...      9
2.2      Penyusunan Bahan Berbicara …………………………………………….    11
Bab III Penutup
3.1  Kesimpulan ……………………………………………………………….      12

Daftar Isi ………………………………………………………………….      13
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Bahasa merupakan sarana berkomunikasi antarmanusia dalam rangka memenuhi sifat manusia sebagai makhluk sosial yang memerlukan interaksi. Maka dari itu kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari kegiatan berbahasa. Keterampilan berbahasa terdiri dari empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek tersebut harus dikuasai agar terampil berbahasa. Aspek keterampilan berbahasa yang kedua yakni berbicara, berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang diperlukan untuk berbagai keperluan.
Keterampilan berbicara harus dikuasai oleh siswa, sebab keterampilan berbicara akan menunjang keterampilan lainnya. Keterampilan berbibacara bukanlah suatu keterampilan yang diwariskan secara turun temurun walaupun pada dasarnya secara alamiah manusia dapat berbicara. Namun, keterampilan berbicara secara formal memerlukan latihan serta pengarahan.
Dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilakukan di sekolah berbentuk simulasi, praktik berbicara yang sesungguhnya, dan pemberian atau penerimaan umpan balik. Kegiatan tersebut dilakukan secara perorangan, berpasangan dan berkelompok. Kegiatan belajar mengajar diarahkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara secara terpadu, fungsional, dan kontekstual, artinya setiap materi yang diberikan selalu dikaitkan dengan usaha peningkatan keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, dan menulis) dan pengetahuan bahasa (kosakata dan struktur).
Selain itu, agar pengajaran ini bersifat fungsional dan kontekstual maka materi yang diberikan benar-benar bermakna bagi siswa, seperti bercerita, berdialog, berceramah/pidato dan berdiskusi. Sehingga siswa mampu menggunakan keterampilan berbicaranya.
Pada dasarnya, setiap guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengharapkan bahwa semua siswa mampu menggunakan keterampilan berbicara sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasinya secara lisan sehingga dalam kondisi pembicaraan apapun, mereka mampu mengaplikasikannya secara efektif dan efisien.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk berkomunikasi lisan secara formal di kelas. Ketika guru menyampaikan pertanyaan, tak seorangpun siswa yang berani untuk menjawab. Demikian juga, ketika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, hamper tidak ada seorang siswa yang berani untuk bertanya kepada guru, padahal masih ada materi yang belum dikuasai.
Proses pembelajaran semakin meprihatinkan ketika berlangsung penyajian materi keterampilan berbicara. Adapun tujuan pembelajaran keterampilan berbicara siswa berdasarkan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah agar siswa mampu berbicara secara efektif dan efisien untuk mengungkapkan gagasan dan pendapat, kritikan, perasan dalam berbagai bentuk kepada berbagai mitra bicara sesuai dengan tujuan dan konteks pembicaraan.
Salah satu metode pembelajaran yang diharapkan dapat membantu pembelajaran berbicara adalah strategi pembelajaran debat topik. Debat topik, yaitu teknik pembelajaran yang menuntut siswa berbicara untuk memperdebatkan suatu topik. Keharusan siswa berbicara karena harus mempertahankan dan memperjuangkan pendapatnya, sehingga mau tidak mau harus berbicara.





1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.         Bagaimana peningkatan keterampilan berbicara Bahasa Indonesia dengan menerapkan teknik debat topik?
2.         Bagaimana menyusun bahan dalam berbicara?
1.3  Tujuan
1.         Untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara Bahasa Indonesia dengan menerapkan teknik debat topik.
2.         Untuk mengetahui bagaimana menyusun bahan dalam berbicara.












BAB II
PEMBAHASAN

2.1          Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia Dengan Menerapkan Teknik Debat Topik
2.1.1         Pengertian Berbicara
Berbicara ialah bentuk komunikasi dengan menggunakan media bahasa, berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran. Ujaran-ujaran yang muncul merupakan perwujudan dari gagasan, pikiran, perasaan menjadi wujud ujaran.
Ada beberapa hal yang berkaitan dengan batasan berbicara berdasarkan teori yang dikemukakan oleh para pakar komunikasi yaitu:
·           Berbicara merupakan ekspresi diri
·           Berbicara merupakan kemampuan mental motorik
·           Berbicara merupakan proses simbolik
·           Berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang produktif
Berbicara secara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain. Pengertian secara khusus banyak dikemukakan oleh para pakar. Tarigan (1983:15), misalnya, mengemukakan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.


2.1.2         Tujuan Berbicara
Tujuan utama berbicara adalah untuk menginformasikan gagasan-gagasan kepada pendengar yang harus ditempatkan sebagai sarana penyampaian sesuatu kepada orang lain. Menurut Mulyana, pengelompokan tujuan berbicara ada empat tujuan yaitu :
1.      Tujuan sosial
2.      Tujuan ekspresif
3.      Tujuan ritual
4.      Tujuan instrumental
Ada juga tujuan-tujuan berbicara dengan menitikberatkan pada efek pembicaraan, yaitu :
1.      Berbicara dengan meyakinkan pendengar
2.      Berbicara dengan tujuan mempengaruhi pendengar
3.      Berbicara dengan tujuan memperluas wawasan pendengar
4.      Berbicara dengan tujuan memberi gambaran tentang suatu objek

2.1.3        Pemahaman Mengenai Kaidah-kaidah Debat Topik
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa topik sebagai pokok pembicaraan dalam diskusi, ceramah, karangan. Dalam Kamus Linguistik, dinyatakan bahwa topik sebagai bagian dari kalimat yang menjadi kerangka untuk pernyatan yang mengikutinya. Kerangka itu bersangkutan dengan ruang, waktu dan benda. Jadi, topik adalah pokok pembicaraan atau pokok bahasan dalam sebuah karangan (Kridalaksana, 1993)
Pada umumnya jenis topik akan menjadi panduan yang terbaik dalam pemilihan materi dan pengembangan komposisi. Ada beberapa pandangan yang membuat debat topik dipilih untuk dikembangkan, yaitu:
a.    Debat topik mempunyai dua sisi yang kedua-duanya sangatlah kuat untuk diperdebatkan. Kedua sisi tersebut membutuhkan penekanan, fakta-fakta, fakta pendukung dan argumentasi yang sama dalam bentuk porsi dan pengembangan.
b.    Debat topik lebih menantang ketika penulis dan pembicara memilih apakah setuju atau tidak setuju dengan ide tersebut. Dalam arti bahwa mereka seharusya berdiri pada satu posisi yang memungkinka yang lainnya akan mendebat dengan argument sendiri untuk menolak pendapat penulis dan pembicara.

2.1.4        Faktor-faktor Kebahasaan Sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
a.    Ketepatan Pengucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar. Sudah tentu pola ucapan dan artikulasi yang digunakan tidak selalu sama. Setiap orang meiliki gaya tersendiri dan gaya bahasa yang dipakai selalu berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaraan, perasaan dan sasaran. Akan tetapi kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok dan menyimpang maka keefektifan komunikasi akan terganggu.
b.    Ketepatan Intonasi
Kesesuaian intonasi merupakan gaya tarik tersendiri dalam berbicara dan merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan intonasi yang sesuai dengan masalahnya akan menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar, hampir dipastikan kejemuan dan keefektifan berbicara berkurang.
c.    Pilihan Kata (diksi)
Pilihan kata (diksi) hendaknya tepat, jelas dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar.
d.   Kelancaran
Seorang pembicara yang lancar berbicara memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Sering kali kita dengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang sangat menggangu penangkapan pendengar, misalnya menyelipkan bunyi ee, oo, dan sebagainya. Sebaliknya pembicara yang terlalu cepat berbicara juga menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicaraannya.

2.1.5        Hasil Peningkatan Keterampilan Berbicara Dengan Menerapkan Teknik Debat Topik
Menggunakan teknik debat topik dalam pembelajaran keterampilan berbicara, siswa dapat meningkatkan kemampuan berbicara yang meliputi aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan yaitu: ketepatan pelafalan, ketepatan pilihan kata, keefektifan kalimat, kelancaran, keterbukaan, relevansi, keberanian dan ketenangan dalam berbicara. Adapun peningkatan yang dihasilkan dengan menerapkan teknik debat topik adalah sebagai berikut:
1.      Penggunaan teknik debat topik meningkatkan ketepatan pelafalan siswa dalam berbicara
Hal ini terjadi karena kesempatan siswa untuk berlatih berbicara dengan lafal yang tepat di dalam kelas cukup banyak. Siswa juga dapat saling mengoreksi kesalahan pelafalan dalam kelompoknya. Selain itu, siswa juga saling berbagi pengalaman belajar antara temannya.
2.      Penggunaan teknik debat topik meningkatkan keefektifan kalimat siswa dalam berbicara
Teknik debat topik yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan berbicara ternyata dapat meningkatkan keefektifan kalimat siswa dalam berbicara. Hal ini terjadi setelah siswa melalui proses belajar mengajar dengan menggunakan teknik debat topik dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Selama proses belajar mengajar berlangsung, siswa bekerja sama dan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang keefektifan kalimat dalam berbicara.
3.      Penggunaan teknik debat topik meningkatkan kefasihan, keterbukaan, keberanian serta ketenangan siswa dalam berbicara
Dengan melalui penggunaan teknik debat topik dalam pembelajaran keterampilan berbicara dapat meningkatkan kefasihan, keterbukaan, relevansi, keberanian dan ketenangan siswa dalam berbicara. Karena dengan menggunakan teknik debat topik dalam pembelajaran keterampilan berbicara, siswa mendapat kesempatan yang banyak untuk praktik berbicara di dalam kelas. Disamping itu, siswa juga lebih berani menungkapkan gagasannya karena siswa diberi kesempatan untuk menggunakan kata-katanya sendiri dan juga telah benyak berlatih berbicara di dalam kelompok-kelompok kecilnya.



2.3              Penyusunan Bahan Berbicara
               Topik pembicaraan dinilai baik apabila menarik bagi pembicara dan pendengar, misalnya, aktual dan relevan dengan kepentingan partisipan. Agar topik pembicaraan itu mudah disusun naskah secara sistematis, misalnya sesuai dengan urutan waktu, tempat dan sebab akibat.
               Kegiatan berbicara acap kali di topang dengan persiapan tertulis, baik berupa refrensi yang harus dibaca maupun konsep yang akan disampaikan. Pokok pembicaraan itu ada baiknya dipersiapkan dalam bentuk tertulis, misalnya berupa naskah lengkap atau out line.
                        Mempersiapkan materi untuk bahan bicara di depan orang banyak, idealnya memang dilakukan selama beberapa hari. Paling tidak ada persiapan untuk mempersiapkan bahan, kemudian melatih cara bicara, dan mempersiapkan mental. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan bahan untuk berbicara, antara lain :
1.        Siapkan materi yang paling kita kuasai atau paling kita gemari. Bicarakan tentang hal-hal yang selama ini menarik minat kita. Bisa tentang olahraga, film atau musik.
2.        Memasukan pengalaman bekesan yang pernah kita alami dalam materi presentasi juga bisa membantu untuk memilih bahan yang familiar.
3.        Selipkan sedikit kesimpulan atau saran yang akan kita miliki manfaat bagi orang lain.
4.        Persiapkan diri juga untuk tampil dengan bahasa tubuh yang baik dan kalimat pembuka yang baik. Menyapa rekan atau kolega yang hadir dengan ramah bisa sekaligus menjadi pemecah ketegangan yang baik.


BAB III
PENUTUP

3.1                        Kesimpulan
                        Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.        Pengetahuan tentang ilmu atau teori berbicara sangat menunjang kemahiran serta keberhasilan seni dan praktik berbicara. Untuk itulah diperlukan pendidikan berbicra. Konsep-konsep dasar pendidikan berbicara mencakup tiga kategori, yaitu (1) hal-hal yang berkenaan dengan hakikat atau sifat-sifat dasar ujaran, (2) hal-hal yang berhubungan dengan proses intelektual yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan berbicara, dan (3) hal-hal yang memudahkan seseorang  untuk mencapai keterampilan berbicara.
2.        Penggunaan teknik debat topik dalam pembelajaran keterampilan berbicara dapat meningkatkan kemampuan berbicara yang meliputi aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan yaitu: ketepatan pelafalan, ketepatan pilihan kata, keefektifan kalimat, kelancaran, keterbukaan, relevansi, keberanian dan ketenangan dalam berbicara.







Daftar Pustaka

Tarigan, H. G 1986. Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar