Selasa, 07 Juni 2016

Dan Hujan pun Diam


Malam yang sunyi, tokek tak bersuara malam itu. Ketika seharusnya mereka bernyanyi nyaring dan saling sahut-menyahut. Bintang-bintang pun bersembunyi di balik awan mendung. seolah-olah bersembunyi malu pada insan-insan yang sedang bercumbu di semak-semak. atau takut pada keheningan dan kegelapan malam yang tak kunjung beranjak. Hingga jago-jago berkokok membangunkan sang surya.
Begitupun sepertinya  dengan Aryo yang sedari petang sudah bangun. Ia masih terduduk termangu di atas kursi kayu yang lapuk nan reot, menggenggam dan memandangi secarik kertas putih tanpa coretan. Nampaknya ada sebuah batu besar yang mengganjal di hatinya, dan mengurung yang sebenar-benarnya Aryo dalam palung jiwa yang paling pekat. Hingga sekumpulan bocah-bocah lewatpun meneriakinya sinting. Namun lelaki krempeng itu  tak peduli, ia tak bergeming sedikitpun. Seolah telinganya sudah tertutup rapat oleh gumpalan kapas yang biasanya digunakan untuk menutup lubang-lubang pada mayat.
Ingat sekali aryo, dulu sekali. Saat burhan Bapaknya, menggenggam halus tangannya yang masih mungil. yang ketika itu tengah memegang selembar kertas putih tanpa coretan. Di sebuah teras rumah, sementara di sampingnya Sukma yang tak lain adalah ibunya Aryo, sedang napeni (membersihkan beras dari gabah yang tidak tergiling). Bapaknya yang legam itu mengajarinya cara membuat pesawat kertas. kemudian dengan senyum yang membuncah ia menerbangkan pesawat kertas itu dan ayahnya  berkata “besar nanti, kau harus jadi pilot, nang”
Itulah agaknya, gabungan aksara yang sampai sekarang terus menghantui otaknya. sampai lama berselang setelah ia dengan beberapa puluh ribu di genggaman, ia memberanikan diri berangkat ke tanah sebrang. Lalu setelah beberapa bulan aksi nekatnya, ia hanya menjadi seorang tukang semir sepatu.
Seperti itulah perjalanan hidup aryo. Sedari tadi hanya melamun meratapi nasibnya yang tak beruntung, ia duduk termangu dengan memandang selembar kertas dalam genggamannya. dan setelah beberapa lama, ia mulai melipat-lipatnya dengan perlahan . Sehingga tanpa keajaiban, selembar kertas itu sudah menjadi sebuah pesawat kecil. hampir mirip dengan yang pernah dibuat bapaknya dulu.
Angin berhembus pelan dengan lirih. Gemerisik dedaunan yang saling bergesekan, Seketika menciptakan irama paling duka. Yang seolah sengaja diciptakan tuhan untuk mengiringi  kesedihan aryo. Bersamaan dengan itu, kemudian satu, dua hingga puluhan bulir air matanya tumpah mengalir melewati pori-pori wajahnya.
“bapak, ibu, aku kepengen balik”, rangkaian kata itulah yang tercetus di antara isak dan air matanya.  Seolah semesta mengerti kerinduan yang sedang dirasakan Aryo. Awan tiba-tiba menghitam, dan tak lama setelahnya langitpun ikut menangis. Disertai dentuman dan cahaya yang saling sahut menyahut menyambar bumi.
Di tengah rintik hujan yang pedih, air matanya tersamarkan. Dan pesawat kertas yang digenggamnya basah, kemudian layu layaknya kembang-kembang yang tak pernah disiram. Aryo semakin tertunduk, matanya terpejam. Kedua tangannya terkepal dan bergetar. Ia merasakan sebuah getaran di dalam dada, seperti sesuatu yang mencoba untuk keluar.
Ketika kilat semakin ganas menyambar, dan guyuran hujan semakin menyakitkan. Aryo mendongakkan kepala. Memandang langit, lalu membuka mulut sepenuhnya terbuka . Aryo berteriak sangat keras hingga suaranya mengilang ditelan semilir.
Aryo tersungkur, mengalah pada hujan. Kini kepalanya sejajar dengan tanah, matanya tepat berada di dekat tanah yang basah. Lalu dinggenggamnya tanah dalam kepalan seraya ia berkata,
“Kapan kita membuat pesawat lagi?”, katanya dengan nada yang keras. matanya sayup.

“Kapan? masih ingin aku jadi pilot? apa? mimpi? maaf! aku rindu bapak. Aku sungguh ironi “, tukasnya. Dan hujan pun diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar